Dunia ini penjara berhantu
Telah kita pelajari di dalam kitab al-Quran manusia adalah sebaik-baik kejadian dan makhluk terbaik ini jugalah yang sedang menghancur-musnahkan dunia.
Dunia ini tampak seperti sebuah besar penjara yang dipenuhi dengan berbagai jenis hantu. Itu kemungkinan diramalkan oleh penyutisdirek Joko Anwar dalam filmnya Ghost in the Cell. Akan tetapi, sulit untuk mengenal pasti genre film ini. Mungkin merupakan kombinasi komedi absurde, namun komedi tersebut pun berisi serius, misteri, keganasan dan aksi seperti cerita anak kecil. Semuanya mencampur adik, menciptakan kegelisahan.
Joko mungkin ingin menyatakan bahwa hidup ini begitu beragam dan mencerminkan identitas setiap orang. Bahkan ada bagian yang menarik sehingga saya merasa mengingatkan film Kung Fu Hustle yang disutisdirekkan oleh Stephen Chow. Film Ghost in the Cell ini juga menampilkan dua wakil Malaysian, Bront Palarae sebagai Jefry, seorang pegawai penjara dan Ho Yuhang sebagai Rendra, seorang banduan yang mengkhususkan diri sebagai pimpinan jasa buaan.
Cerita mulai dari Dimas (Endy Arfian), wartawan yang bertemu dengan kecelakaan dan ditangkap di penjara Labuhan Angsana. Di situ, ia bertemu berbagai macam insan, termasuk Anggoro (Abimana Aryasatya), banduan yang sering membela orang lain walaupun tindakannya membuatkan kejadian penjara bertambah parah. Anggoro menunjukkan paradoks, walaupun bersalah di sisi hukum, namun mempunyai rasa manusia yang tinggi. Di satu pihak, dia merupakan orang tidak peduli perundangan, namun lagi menghormati keindahan manusia.
Di penjara juga terdapat Tokek (Aming), banduan yang menyebabkan keganasan seksual sebagai alat menakutkan orang lain. Dimas yang baru masuk penjara menjadi sasarannya. Tokek mewakili manusia yang sebenarnya tidak kuat, namun hanya berani kerana tahu pihak yang dibuli sudah terlalu takut. Dia memanipulasi situasi demi memperoleh keuntungan, seolah-olah manusia yang mampu hanya berani karena tahu pihak yang dibuli sudah sememangnya penakut.
Wayaan yang menarik saya pelihatkan dalam film ini adalah bagaimana hantu membunuh mayat mangsa mereka dengan cara menyusun mayat dan mengubah menjadi suatu seni. Ini mungkin merupakan metafora yang menarik tentang kita yang kadangkala menggambarkan keindahan dengan menggunakan penderitaan orang lain. Arca yang cantik dan hebat ini dibuat menggunakan mayat yang penuh darah dengan isi perut terburai, biji mata terkeluar dan sendi yang patah.
Musa manusia begitu, mempergunakan kehidupan orang lain demi mencari keuntungan dengan menjual gosip, fitnah, hiburan atau berita buruk tentang mereka. Dan kita serba gembira menikmati keindahan mereka sebagai bahan tontonan tanpa mempedulikan kesengsaraan di sebaliknya.
Lebih menarik lagi dalam Ghost in the Cell ini adalah hantu yang membunuh akan menyerupai mangsanya sendiri ketika menyerang. Mungkin hal ini menunjukkan bahwa kejahatan tidak datang dari luar, tetapi dari dalam diri kita sendiri. Dalam film ini, ada watak yang menarik yaitu Six (Yoga Pratama), banduan yang tidak beragama tetapi memiliki kemampuan melihat hantu dan aura manusia.
Ini merupakan paradoks yang menarik, walaupun orang yang berilmu lebih memahami perkara ghaib, namun dalam film ini, orang yang tidak beragama pun mampu melihat sesuatu yang tidak dapat dilihat oleh orang lain.
Saya melihatkan mereka sebagai sindiran, kerana manusia tak mengenali bangsa atau agama pun tetap dikurniakan Tuhan dengan kelebihan masing-masing. Namun kelebihan yang diberikan tersebut tidak selalu dapat dipahami oleh diri sendiri dan mereka memerlukan bimbingan. Maka itu, banduan alim bernama Wildan (Mike Lucock) diperlukan untuk menafsirkan warna-warna aura yang dilihat oleh Six. Namun, Wildan tidak dapat melihat aura yang keluar dari tubuh manusia seperti mana Six, namun dia memiliki ilmu untuk menafsirkan itu.
Written by urgent.news from Free Malaysia Today's reporting — not their text. Machine-written — may contain errors; check the original before relying on it.
Also reported by 1 other outlet
- Dunia ini penjara berhantu freemalaysiatoday.com